Opini publik tentang aksi power people, 22 mei 2019

Opini publik tentang aksi power people, 22 mei 2019



Toleransi adalah sesuatu yang paling penting dalam hidup berdampingan, Entah itu pasangan suami istri, keluarga, saudara, suku, agama dan bahkan antar bangsa memang diperlukan untuk bisa damai dalam menjalani hidup. Menjalankan toleransi memang tidak semudah untuk diucapkan tetapi toleransi bisa dilakukan dengan perlahan-lahan dan setidaknya jika tidak bisa menjalankan toleransi dengan penuh, ada baiknya jika lebih membatasi diri, mana yang baik dan tidak, mana ranah privasi dan umum. Mungkin dengan begitu setidaknya bisa mengurangi adanya perselisihan yang kemungkinan akan terjadi.

Seperti yang kita tahu aksi yang terjadi pada 22 mei lalu, adalah aksi yang sungguh merugikan baik untuk pendemo, dan yang di demo. Sebenarnya saya pribadi tidak tahu untuk siapa mereka berdemo, mungkin jika ditanya untuk apa berdemo, besar kemungkinan jika itu adalah untuk menuntut keadilan. Tetapi saya yakin ada sesuatu dibalik itu semua yang akan membuat lubang perpecahan makin lebar. Saya tidak tahu kenapa mereka rela berdemo sampai harus melawan diri mereka sendiri. Maksutnya disini adalah melawan hati mereka sendiri. Saya yakin jika sebenarnya mereka yang berdemo juga tidak mau untuk melawan sesama warga Indonesia.

Banyak kabar yang beredar jika pendemo itu ditunggangi oleh suatu kelompok atau organisasi yang bertujuan untuk memecah belah kedaulatan negara. Dengan latar belakang suku dan budaya yang begitu banyaknya di Indonesia membuat semakin mudah untuk memcah belah kedaulatan negara. Tujuan utama dari adanya demo 22 mei kemarin adalah tentang politik, tetapi lama-kelamaan semakin merembet ke urusan agama. Bukankah agama adalah sesuatu hal yang seharusnya mempersatukan seluruh umat manusia. Karena tidak ada satupun agama di dunia yang menyerukan untuk berbuat keburukan, semuanya mengajarkan untuk saling mengasihi dan menyayangi satu sama lain.

Lalu kenapa mereka membawa-bawa agama? seharusnya dalam demo ini tidak perlu membawa-bawa agama. Siapa yang salah dan siapa yang benar, tidak berlaku disini karena semua orang itu benar tidak ada yang salah. Bagaimana tidak benar, semua orang meneriakkan kamu curang. Entah ini kepentingan siapa untuk siapa dan kenapa sampai harus ada aksi seperti ini. Kita tidak tahu jika mungkin disini kita di adu untuk memecah belah kelompok, suku, etnis, dan agama lewat politik, kita yang akan menjadi korban setelah semua ini berakhir. Bukan mereka yang ada di tingat atas.

Bahkan ada sebuah berita yang menyatakan jika mereka yang datang untuk demo adalah mereka yang sudah menerima upah untuk melakukan perintah, dan siapa yang memberi perintah? tidak ada yang tau karena semua masih saling tunjuk menunjuk. Tidak ada yang berani untuk mengangkat tangan dan mengatakan jika dia yang memerintahkan ini. Kenapa harus mau menjual nyawa dengan harga yang begitu murah 100, 200, 500, atau satu juta? Bukankah nyawa itu tidak ada tokonya? Lalu berkelakar jika keadilan harus ditegakkan, sedari dulu keadilan memang sudah seharusnya ditegakkan, tetapi cara yang ditempuh ini tidaklah benar.

Dan masih terus berkelakar, kalau tidak turun ke jalan maka pemerintah tidak akan menggubris permintaan dari rakyat. Sekarang ini kita sudah semakin krisis akan kepercayaan satu dengan yang lainnya. Karena baik pemerintah dan rakyat sudah saling mencurigai, satu konflik tidak pernah selesai dengan satu ketuk palu hakim. Saling suap tuduh menuduh sudah lumrah di telinga rakyat, bahkan kadang menutupi masalah dengan memunculkan masalah lain. Begitulah politik, tidak pernah berhenti pada satu titik, dan tidak pernah ada satu tujuan yang sama.

Bahkan dengan berbagai konflik dan kontroversi yang ada politik akan terus berjalan sampai batas yang tidak diketahui. Sebenarnya disini bukan politiknya yang salah, disini yang salah adalah manusianya. Manusia tau orang yang menjalankan politik ini sudah membuat aturan sendiri dan memberikan warna baru yang kemuadian secara akumulatif akan berubah menjadi kebiasaan atau bahkan menjadi adat politik baru.

Yang pasti disini adalah tetaplah fokus untuk menjadi diri sendiri dan tetap waspada dengan adanya isu-isu yang belum dipastikan kebenarannya. Dan juga menjadi pribadi yang memiliki jiwa toleransi yang baik. Jangan mudah terpancing dengan ucapan seseorang dan tetaplah ingat bahwa kita hidup di Indonesia negara dengan adat timur yang selalu menghargai nilai-nilai budaya dibawah satu bendera yang sama bendera merah putih, Indonesia.

Komentar